INFOKU - Ketupat merupakan makanan yang tidak pernah absen saat Hari Raya Idul Fitri.
Ketupat
biasanya disajikan bersama opor ayam, rendang, sambal goreng, dan lauk
pelengkap lainnya.
Makanan
khas Lebaran ini terbuat dari bahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman
janur kuning.
Bukan
sekadar makanan, ketupat ternyata memiliki sejarah serta nilai historis yang
menarik untuk diketahui.
Baca juga : Idul Fitri sebuah Transformasi Diri
Bahkan,
ada tradisi Kupatan di beberapa kabupaten atau kota di Pulau Jawa, yang
diselenggarakan sepekan setelah Lebaran.
Tradisi
Kupatan tersebut berasal dari kata kupat dalam bahasa Jawa yang berarti
ketupat.
Asal
usul ketupat diyakini berkaitan dengan Sunan Kalijaga, salah satu anggota Wali
Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Berawal saat Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai media syiar Islam pada abad ke-15 hingga ke-16 di pesisir utara Jawa.
Baca juga : Idul Fitri 1446 tahun 2025
Sebab
kala itu, ketupat merupakan simbol perayaan Hari Raya Islam pada masa
pemerintahan Raden Patah dari Kerajaan Demak pada abad ke-15.
Kemudian,
Sunan Kalijaga memanfaatkan ketupat sebagai media dakwah untuk menyebarkan
Islam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa.
Bungkus
ketupat yang terbuat dari janur menunjukkan identitas masyarakat pesisir yang
banyak ditumbuhi pohon kelapa atau nyiur.
Kemudian Sunan Kalijaga membagikan Ketupat sebagai sarana untuk berdakwah
menyebarkan agama Islam.
Ini menjadi pendekatan budaya oleh Sunan Kalijaga untuk mengajak orang Jawa untuk memeluk agama Islam pada kala itu.
Baca juga : Mengapa Polres Blora All Out Amankan Malam Takbir Idulfitri, Ini Alasanya
Sunan
Kalijaga juga memasukkan pengaruh Hindu pada ajaran Islam, sehingga menjadi
sebuah akulturasi.
Tujuannya,
untuk menarik hati masyarakat yang kala itu masih memeluk Hindu.
Secara perlahan, tradisi Ketupat ini menjadi melekat di Indonesia sebagai hidangan Lebaran. (Roes/IST)
0 Comments
Post a Comment